Masa Depan Indonesia dalam Handphone Anggodo





Sore kemarin, sepulang mengitari Tanjungpinang seharian, saya terusik dengan tayangan siaran langsung sidang Mahkamah Konstitusi dengan agenda mendengarkan rekaman Anggodo dengan ”teman-temannya”. Baru lima menit saya menyimak siaran langsung tersebut, perut saya mendadak mual. Bayangkan saja, masa depan peradilan negara ini dengan santainya dikontrol melalui telepon selular seorang bajingan bernama Anggodo!!!

Presiden Indonesia sekalipun, saya rasa tidak bisa mengontrol jalannya pemerintahan lewat telepon selular.
Ada rapat terbatas, rapat harian, rapat internal, dan rapat-rapat lain-lain. Luar Biasa memang Anggodo itu.....

Saya jadi teringat dengan germo kelas kakap yang memajang nomor handphonenya diiklan baris koran-koran merah. Dengan modal kring krang, nyerocos kesana kemari, terima panggilan dari sana sini, Anggodo berhasil bikin pejabat yang dihormati dan disegani dimata publik menjadi ”Jongos” nya.

“Jadi KPK nanti ditutup, ngerti nggak?!”

MANTAP!!!!!.

Setau saya, untuk membubarkan lembaga yang ditakuti koruptor itu butuh beberapa kali pembahasan di DPR, beberapa kali uji materi di MK, dan beberapa perpu dari Pak Presiden. Namun hal itu tampaknya keliatan sangat simpel dan gampang di mulut Anggodo. Hati kecil saya sempat nyeletuk, udah kayak satpol PP aja nutupin warung kaki lima.. (Maz Pram.. kalau ngebaca ini, maaf yah...Hehehehe... )

”Tersangka sudah ditahan, menang kita,” teriak Anggodo ketawa terkekeh. Makin mual saja saya.... Huekkksssss..


Hebatnya lagi, Anggodo bahkan terang-terangan ngebanggain kalau dia memang benar-benar germo nomor satu.

”Ternyata Truno tiga komitmennya tinggi sama saya. Sesok Chandra dilebokne ya.. Tak pateni neng jero,”
Saya jadi teringat sosok Al-Pacino mafia dari Italia sana. Mungkin, Al-Pacino bakalan minder kalau ketemu dengan Anggodo. Luar biasa sekali bapak tua ini.

Namun, ada satu hal yang semakin membuat saya mual. Cerita ”KONON KATANYA” yang mengatakan hukum di Indonesia itu bisa ditawar, diputar-putar, ditarik keatas, kebawah, didiskon, benar adanya!!

Konfirmasi inilah yang memicu kemarahan masyarakat Indonesia di hampir seluruh belahan dunia. Beberapa teman kuliah dan SMU yang saat ini berada di Jerman, Amerika dan Afrika Selatan sampai-sampai mengirimkan e-mail dan pesan facebook meminta penjelasan tentang cerita bau comberan itu.

Wajar kalau masyarakat semakin muak dengan praktik korupsi dan penyalahgunaan wewenang oleh aparat penegak hukum.

Bukan sok berlebihan,, secara pribadi, saya merasa marah, terluka dan tersakiti mendengarkan rekaman tersebut. Jadi, Wajar kalau masyarakat melawan.

Perlawanan spontan masyarakat terlihat ketika mereka menjadikan sosok Bibit Samad Rianto dan Chandra M Hamzah sebagai simbol perlawanan penegakan hukum!!!
Saat ini, keberadaan Bibit dan Chandra sudah menjadi simbol hati nurani rakyat, yang seharusnya bisa ditangkap dan didengarkan oleh pemerintah.

Ada baiknya, pemerintah agar segera berubah dan memperbaiki diri. Karena jika tidak, rakyat akan melakukan perlawanan secara menyeluruh.

Kalau sudah begitu, jangan salahkan kalau ”People Power” yang sudah dua kali mewarnai perjalanan sejarah Indonesia kembali terulang. Jangan sampai kepercayaan publik menjadi turun yang berimbas kepada gerakan menurunkan presiden yang baru saja dilantik bulan lalu..

Hati kecil saya teriak... ”JANGANNNNNNNN...........”

Sindrom Narsis Lima Tahunan


Menjelang Pemilu Legislatif (Pileg) 9 April 2009 dan Pemilu Presiden (Pilpres) 8 Juli 2009, ribuan atribut kampanye seperti baliho, spanduk, bendera, kalender, stiker, banner, dan selebaran berserakan di banyak tempat strategis. Jika mau jujur, fenomena ini merupakan mahakarya dari para calon legislative (caleg) akan eksistensi mereka agar diperhatikan.

Akibat perbuatan mereka, mengubah kota menjadi galeri terbuka, dengan isi pameran foto-foto wajah polesan photoshop terbaik mereka. Tak hanya itu, angkutan umum dan mobil pribadi disulap menjadi media kampanye, baik oleh caleg di semua tingkatan maupun bakal capres-cawapres. Di tengah iklim politik yang kompetitif, pemasangan pelbagai atribut kampanye yang menghiasi atau malah mengotori wajah Indonesia itu sebetulnya termasuk hal yang harus dilakukan setiap caleg dan atau bakal capres-cawapres.

Setidaknya, hal itu berfungsi sebagai sosialisasi untuk memperkenalkan profil diri, visi-misi, program kerja, blue print kepemimpinan caleg dan atau bakal capres-cawapres jika terpilih. Meski demikian, mencermati content dari pelbagai atribut kampanye yang ada ternyata dominan atau bahkan cenderung berlebihan alias NARSIS!

Biasa..... anomali perasaan manusia seringkali membuat manusia sulit untuk bersikap menyombongkan diri. Narsis akan begitu dibenci bila kata itu melekat dengan kata ”orang lain”, namun pada saat itu pula, narsis itu telah menjadi kenyataan yang dekat dengan kita. Percaya atau tidak, diam-diam kita memiliki sifat alamiah dasar yaitu narsis. Saya pun sekuat tenaga untuk tidak membeci narsis yang bersenyawa dengan kata ”orang lain”. Namun kenyataannya sulit sekali….

Fenomena narsis ini di sisi lain bukan hal yang perlu diseriusi, sebab dalam kenyataannya narsis ini bisa datang dengan berbagai fungsi, misalnya dengan sedikit narsis, kita akan sedikit optimistis.

Nah, kembali ke urusan caleg, kali ini saya benar-benar dibuat heran, sebab narsis saat ini sudah keterlaluan. Coba saja lihat di tiang listrik, pepohonan di jalan, gambar caleg bertebaran di mana-mana. Ada beberapa pesan yang sengaja ingin ditampilkan dan tanpa sengaja, caleg tersebut benar-benar sedang terendam dalam lumpur narsis. Coba aja lihat ungkapan caleg dalam spanduk yang saya temukan di beberapa sudut kota Batam dan Tanjungpinang.

1. Muda Kuat dan Bergairah
2. Bersama Anda, Saya Bisa
3. Bapak Wong Cilik
4. Pilihlah Saya Jadi Wakil mu
5. Kenapa harus Golput kalau ada “Anu”
6. Pilihan Rakyat Sejati
7. Terbukti Amanah

Lebih parah lagi ada yang memberi pesan yang jauh sekali sambungannya dengan tema calegnya... “. “Aku bangga jadi bangsa Indonesia”. Nah, yang bilang saya ga bangga jadi bangsa Indonesia siapa??!!

Ada juga yang kelewat narsis bahkan cenderung keterlaluan. “Selamat datang di kawasan pengaspalan jalan anu.... berkat pengawalan bapak anu, dana APBD terealisasikan untuk pengaspalan.” Gak lupa pula, nama plus dengan logo gambar Pohon Kuningnya nongol di pengkolan jalan. Nah loh…

Memang pemilu ini adalah pemilu narsis. Siklus lima tahunan menyulap orang yang bukan siapa-siapa menjadi siapa-siapa lewat jalur pintas yang dinamakan pemilu. Beruntungnya, saya belum se narsis mereka untuk mengatakan bahwa saya adalah siapa-siapa dari siapa-siapa……

PETER & TINA



Peter dan Tina sedang duduk bersama di taman kampus tanpa melakukan

apapun, hanya memandang langit sementara sahabat-sahabat mereka sedang
asik bercanda ria dengan kekasih mereka masing-masing.

Tina: "Duh bosen banget. Aku harap aku juga punya pacar yang bisa
berbagi waktu denganku."

Peter: "kayaknya cuma tinggal kita berdua deh yang jomblo. cuma kita
berdua saja yang tidak punya pasangan sekarang."
(keduanya mengeluh dan berdiam beberapa saat)

Tina: "Kayaknya aku ada ide bagus deh. kita adakan permainan yuk?"

Peter: "Eh? permainan apaan?"

Tina: "Eng... gampang sih permainannya. Kamu jadi pacarku dan aku jadi
pacarmu tapi hanya untuk 100 hari saja. gimana menurutmu?"

Peter: "baiklah... lagian aku juga gada rencana apa-apa untuk beberapa
bulan ke depan."

Tina: "Kok kayaknya kamu gak terlalu niat ya... semangat dong! hari ini
akan jadi hari pertama kita kencan. Mau jalan-jalan kemana nih?"

Peter: "Gimana kalo kita nonton saja? Kalo gak salah film The Troy lagi
maen deh. katanya film itu bagus"

Tina: "OK dech.... Yuk kita pergi sekarang. tar pulang nonton kita ke
karaoke ya...
ajak aja adik kamu sama pacarnya biar seru."

Peter : "Boleh juga..."
(mereka pun pergi nonton, berkaraoke dan Peter mengantarkan Tina pulang
malam harinya)

Hari ke 2:
Peter dan Tina menghabiskan waktu untuk ngobrol dan bercanda di kafe,
suasana kafe yang remang-remang dan alunan musik yang syahdu membawa
hati mereka pada situasi yang romantis. Sebelum pulang Peter membeli sebuah
kalung perak berliontin bintang untuk Tina.


Hari ke 3:
Mereka pergi ke pusat perbelanjaan untuk mencari kado untuk seorang
sahabat Peter.
Setelah lelah berkeliling pusat perbelanjaan, mereka memutuskan membeli
sebuah miniatur mobil mini. Setelah itu mereka beristirahat duduk di
foodcourt, makan satu potong kue dan satu gelas jus berdua dan mulai
berpegangan tangan untuk pertama kalinya.

Hari ke 7:
Bermain bowling dengan teman-teman Peter.
Tangan tina terasa sakit karena tidak pernah bermain bowling sebelumnya.
Peter memijit-mijit tangan Tina dengan lembut.

Hari ke 25:
Peter mengajak Tina makan malam di Ancol Bay.
Bulan sudah menampakan diri, langit yang cerah menghamparkan ribuan
bintang dalam pelukannya.
Mereka duduk menunggu makanan, sambil menikmati suara desir angin
berpadu
dengan suara gelombang bergulung di pantai. Sekali lagi Tina memandang
langit, dan melihat bintang jatuh.
Dia mengucapkan suatu permintaan dalam hatinya.

Hari ke 41:
Peter berulang tahun. Tina membuatkan kue ulang tahun untuk Peter.
Bukan kue buatannya yang pertama, tapi kasih sayang yang mulai timbul
dalam hatinya membuat kue buatannya itu menjadi yang terbaik. Peter
terharu menerima kue itu, dan dia mengucapkan suatu harapan saat meniup
lilin ulang tahunnya.

Hari ke 67:
Menghabiskan waktu di Dufan. Naik halilintar, makan es krim bersama,dan
mengunjungi stand permainan. Peter menghadiahkan sebuah boneka teddy
bear
untuk Tina, dan Tina membelikan sebuah pulpen untuk Peter.

Hari ke 72:
Pergi Ke PRJ. Melihat meriahnya pameran lampion dari negeri China.
Tina penasaran untuk mengunjungi salah satu tenda peramal.
Sang peramal hanya mengatakan "Hargai waktumu bersamanya mulai sekarang"
kemudian peramal itu meneteskan air mata.

Hari ke 84:
Peter mengusulkan agar mereka refreshing ke pantai.
Pantai Anyer sangat sepi karena bukan waktunya liburan bagi orang lain.
Mereka melepaskan sandal dan berjalan sepanjang pantai sambil
berpegangan
tangan,
merasakan lembutnya pasir dan dinginnya air laut menghempas kaki mereka.
Matahari terbenam, dan mereka berpelukan seakan tidak ingin berpisah
lagi.

Hari ke 99:
Peter memutuskan agar mereka menjalani hari ini dengan santai dan
sederhana.
Mereka berkeliling kota dan akhirnya duduk di sebuah taman kota.

15:20 pm
Tina: "Aku haus. Istirahat dulu yuk sebentar. "
Peter: "Tunggu disini, aku beli minuman dulu. Aku mau teh botol saja.
Kamu mau minum apa?"
Tina: "Aku saja yang beli. kamu kan capek sudah menyetir keliling kota
hari ini. Sebentar ya"
Peter mengangguk. kakinya memang pegal sekali karena dimana-mana Jakarta
selalu macet.

15:30 pm
Peter sudah menunggu selama 10 menit and Tina belum kembali juga.
Tiba-tiba seseorang yang tak dikenal berlari menghampirinya dengan wajah
panik.
Peter : "Ada apa pak?"
Orang asing: "Ada seorang perempuan ditabrak mobil. Kayaknya perempuan
itu adalah temanmu"
Peter segera berlari bersama dengan orang asing itu.
Disana, di atas aspal yang panas terjemur terik matahari
siang,tergeletak
tubuh Tina bersimbah darah, masih memegang botol minumannya.
Peter segera melarikan mobilnya membawa Tina ke rumah sakit terdekat.
Peter duduk diluar ruang gawat darurat selama 8 jam 10 menit.
Seorang dokter keluar dengan wajah penuh penyesalan.

23:53 pm
Dokter: "Maaf, tapi kami sudah mencoba melakukan yang terbaik.
Dia masih bernafas sekarang tapi Yang kuasa akan segera menjemput.
Kami menemukan surat ini dalam kantung bajunya."
Dokter memberikan surat yang terkena percikan darah kepada Peter dan dia
segera masuk ke dalam kamar rawat untuk melihat Tina. Wajahnya pucat
tetapi terlihat damai.
Peter duduk disamping pembaringan tina dan menggenggam tangan Tina
dengan
erat.
Untuk pertama kali dalam hidupnya Peter merasakan torehan luka yang
sangat dalam di hatinya.
Butiran air mata mengalir dari kedua belah matanya.
Kemudian dia mulai membaca surat yang telah ditulis Tina untuknya.

Dear Peter...
ke 100 hari kita sudah hampir berakhir.
Aku menikmati hari-hari yang kulalui bersamamu.
Walaupun kadang-kadang kamu jutek dan tidak bisa ditebak,
tapi semua hal ini telah membawa kebahagiaan dalam hidupku.
Aku sudah menyadari bahwa kau adalah pria yang berharga dalam hidupku.
Aku menyesal tidak pernah berusaha untuk mengenalmu lebih dalam lagi
sebelumnya.
Sekarang aku tidak meminta apa-apa, hanya berharap kita bisa
memperpanjang hari-hari kebersamaan kita. Sama seperti yang kuucapkan
pada bintang jatuh malam itu di pantai,
Aku ingin kau menjadi cinta sejati dalam hidupku. Aku ingin menjadi
kekasihmu selamanya dan berharap kau juga bisa berada disisiku seumur
hidupku. Peter, aku sangat sayang padamu.

23:58
Peter: "Tina, apakah kau tahu harapan apa yang kuucapkan dalam hati
saat
meniup lilin ulang tahunku?
Aku pun berdoa agar Tuhan mengijinkan kita bersama-sama selamanya.
Tina, kau tidak bisa meninggalkanku! hari yang kita lalui baru berjumlah
99 hari!
Kamu harus bangun dan kita akan melewati puluhan ribu hari bersama-sama!
Aku juga sayang padamu, Tina. Jangan tinggalkan aku, jangan biarkan aku
kesepian!
Tina, Aku sayang kamu...!"

Jam dinding berdentang 12 kali.... jantung Tina berhenti berdetak.
Hari itu adalah hari ke 100...


PS:
Katakan perasaanmu pada orang yang kau sayangi sebelum terlambat.
Kau tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi besok.
Kau tidak akan pernah tahu siapa yang akan meninggalkanmu dan tidak akan
pernah kembali lagi.

True love doesn't have a happy ending, because true love never ends...

Pipis Bareng Menteri dan Gubernur


Beberapa waktu lalu saya diundang humas Pemprov untuk mengikuti pembukaan World Ocean Conference 2009 di Lagoi. Cukup jauh memang. Kalau dihitung-dihitung jaraknya bisa mencapai 80 kilometer dari Tanjungpinang.

Untungnya, seorang pejabat menawari saya untuk menumpang mobilnya. “Lumayan juga lah. Hitung-hitung hemat bensin,”gumam saya dalam hati. “Tapi kita berangkat jam setengah tujuh loh,”sambung si pejabat tadi. Nah, itu dia masalahnya. Sampai sekarang saya masih kesulitan untuk bangun pagi. Maklum kebiasaan sewaktu saya kuliah masih terbawa hingga sekarang.

“Ya sudah lah,” ucapku sambil setengah bertekad. Maklum saja,seumur-umur saya belum pernah menginjakkan kaki di sana. Dilokasi wisata itu dahulu, konon katanya sih, mata uang rupiah gak laku. Untuk melakukan transaksi, semuanya menggunakan dolar. Secara lokasi itu memang dikhususkan 100 persen untuk wisata.

Esoknya, tepat pukul 06.30 saya sudah nangkring di pinggir jalan menunggu tumpangan si pejabat tadi. Seperti biasanya, Indonesia terkenal dengan jam karetnya.

Alhasil, saya menunggu 15 menit dipinggir jalan sepi ditemani udara dingin pagi. “Sialan, tau gini gue ga harus buru-buru bangun,” kata saya dalam hati menumpahkan seluruh sumpah serapah.

Singkat cerita, tiba juga saya dilokasi pertemuan itu. “Sempurna,” ucapku dalam hati. Alam yang indah, berpadu dengan ke eksotisan pantai nyaris membuat lokasi itu seperti Karibia. Meskipun belum pernah kesana, tapi setidaknya saya sering melihat di televisi betapa indahnya Karibia. Wajar saja jika Menteri Kebudayaan Jero Wacik beberapa waktu lalu kaget melihat Kepri mempunyai potensi wisata seindah ini.

Beberapa menit saya memuaskan mata ini menikmati keindahan ciptaan Tuhan yang maha dahsyat.

Namun, kenikmatan saya terganggu oleh suara raungan sirene mobil Patwal yang mengantar Gubernur Kepri Ismeth Abdullah bersama Menteri Kelautan Freddy Numberi. Tak berapa lama, Gubernur dan Menteri pun memasuki lokasi pertemuan.

Sesaat kemudian, saya menyadari kalau ingin (maaf) buang air kecil alias pipis. “Mumpung mereka masih baru datang, gue ke belakang dulu yah,” pinta saya kepada pejabat yang berdiri persis disamping saya.

Akhirnya dengan langkah pasti saya menuju WC Resort tersebut. “Gila… Besar banget neh WC,” tukasku dalam hati. Bagaimana tidak, WC tersebut berukuran 6x6 meter lengkap dengan perabotan di dalamnya. Akhirnya, niat untuk buang air kecilku pun ditunda beberapa saat.

Tapi, karena sudah kebelet, akhirnya saya pun memutuskan untuk melanjutkan pipis saya yang tertunda di salah satu urinal yang terletak di pojok. Untuk WC sebesar itu, tersedia enam urinal yang berjarak setengah meter. Cukup leluasa memang.Diantara ke enam urinal itu, saya memilih posisi ditengah-tengah. Tidak ada alasan khusus mengapa saya memilih posisi di tengah-tengah.

Sesaat ketika saya membuka reseleting celana, tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka. Dengan sikap cuek saya tetap berkonsentrasi melepaskan seluruh hajat yang sudah tertahan sedari tadi.

Namun, alangkah kagetnya saya. Ternyata yang masuk kedalam WC tersebut adalah Gubernur Kepri, Ismeth Abdullah dan Menteri Kelautan Freddy Numberi.

Jadilah saya bertiga dalam WC tersebut. Kikuk juga memang. Sang Gubernur yang asik berbicara dengan Pak Menteri juga sempat kaget melihat keberadaan saya di dalam WC itu.

“Sudah ga tahan nih,” kata Gubernur kepada saya yang masih kaget. “Sama pak,” kata saya sambil berusaha tenang. “Sudah lanjutkan saja,” kata Gubernur berbasa-basi.

“Ya iyalah.. ga mungkin dong saya batalkan ritual pipis yang sudah setengah jalan ini,” kataku membatin. Jadilah kami “pipis bareng” di WC itu. Posisi “pipis bareng” kami adalah, Gubernur sebelah kanan saya, Menteri disebelah kiri saya dan ditengah-tengahnya, Saya!!

“Eh kamu jangan liat saya yah,” kata Menteri yang berasal dari wilayah Timur itu ke saya. Saya yang masih merasa kikuk langsung tersenyum. “Kenapa pak,” respon saya spontan.

Belum sempat Pak Menteri menjawab, Gubernur langsung nyeletuk. “Minder yah Pak. Saingannya anak muda sih,” kata Ismeth tertawa. “Lah, Pak Gubernur sendiri apa masih muda,” tangkis Sang Menteri tak kalah lihainya. Hasilnya, mereka berdua terpingkal-pingkal.

Mendengar candaan berbau miring itu aku pun hanya bisa tersenyum manis sambil buru-buru menyelesaikan ritualku. Namun, Gubernur dan Menteri, disaat bersamaan menyelesaikan pipisnya masing-masing.

Sambil menuju cermin di WC,, Gubernur yang masih tertawa langsung berkata kepada saya. “Dulu saya sewaktu muda sama seperti kamu Trick. Gagah,” kata Gubernur sambil menepuk pundak saya. “Jangan ngaku-ngakulah Pak,” serobot sang Menteri tertawa lepas.

“Pak Freddy gak percaya. Dulu badan saya kayak atlet binaraga loh,” kata Gubernur sambil bergaya laksana binaragawan. Tak mau kalah dengan Gubernur, Sang menteri yang pernah berkarier di Angkatan Laut langsung menyingsingkan lengan batiknya.

“Lihat pak otot saya. Masih terjaga sempurna,” kata Menteri Kelautan itu menyombongkan ototnya. Saya yang sedari tadi menyaksikan kedua pejabat teras itu hanya bisa menahan tawa.

Tak lama kemudian, protokoler pemprov membuka pintu WC memotong pembicaraan mereka berdua. “Pak, acaranya sudah telat lima menit,” kata protokoler itu mengingatkan kami bertiga.

Sambil masih tertawa, Menteri dan Gubernur pun langsung menuju pintu keluar WC. “Nanti kita sambung lagi yah Trick,” kata Ismeth sambil tertawa. Mendengar itu, Menteri Kelautan langsung menepuk punggung Gubernur. “Masih penasaran juga neh Pak Gubernur,” katanya sambil mencoba menahan tawanya.

Akhirnya, tinggallah saya sendiri di WC tersebut. Ada-ada saja…………

Menghalalkan segala cara Vs Mengharamkan segala cara



Sabtu lalu saya mengikuti kelas manajemen strategik. Topik pembahasannya cukup menarik bagi saya. Intinya adalah bagaimana melakukan perencanaan pada suatu sistem menggunakan pendekatan managemen yang dijalankan di dunia usaha.

Yang membuat menarik, sang dosen menjabarkan teori tersebut dalam beberapa pendekatan yang lebih membumi. Teori ekonomi paling kuno Y= F(X) disulap menjadi menjadi contoh nyata. Simpel sekali. Nah, sampai disitu saya cukup terkesima dengan pemikiran sang dosen yang katanya sudah 25 tahun mengajar di UGM.

Tapi bukan disitu inti tulisan saya kali ini…

Begini... Ditengah-tengah kuliah, sang dosen tersebut, mengeluarkan teori yang bagi saya cukup menarik untuk di perdebatkan. “Saat ini, banyak pelaku usaha yang menghalalkan segala cara,” kata sang dosen serius.

“Tapi,” kata sang dosen sambil berpikir beberapa saat. “Banyak juga pelaku usaha yang mengharamkan segala cara,” sambungnya lagi tetap dengan mimik serius.

”Teori macam apapula itu,” gumam saya dalam hati. Sayangnya sang dosen tidak menjelaskan teori “macam apapula” itu. Jadilah teori itu menjadi bahan pemikiran saya dalam beberapa hari ini.

Saya sempat mencoba menghubungkan dengan realita dunia kerja atau bahkan dunia politik. Tapi kayaknya ga ada tuh yang bisa mencitrakan teori ini dalam dunia nyata.

Untuk teori pertama, banyak pelaku usaha [baca:individu] yang menghalalkan segala cara. Nah, untuk tipe ini seh kayaknya mudah banget ditemukan di dunia yang penuh sandiwara meminjam lirik lagu almarhum Nike Ardila.

Mulai dari sikut sana sampe bunuh sana dan bunuh sini demi satu tujuan yang namanya sering disebut kepuasan [baca:harta, tahta, wanita] Uuuupppsss….

Kalau yang satu ini tentu pembaca banyak yang setuju juga bahkan sepakat dengan saya. (apa jangan-jangan pelakunya yah hehehehe….).

Nah untuk teori kedua “mengharamkan segala cara” cukup sulit untuk dijelaskan dalam dunia nyata. Apalagi kalau itu sudah berhubungan dengan “kampung tengah”. Akhhh…. Akhirnya saya sadar sendiri. Untuk apa sih saya mikir terlalu ngejelimet kayak gituan, jika untuk memikirkan yang simpel aja masih bingung untuk dijawab….

Ketua BPK Harus Pintar??!!

"Ketua BPK itu ga harus pintar," kata Andi Anhar Ketua Komisi II DPRD Kepri. Saya yang sedang duduk di kursi empuk ruang rapat komisi hampir terjungkal mendengar ucapan sang ketua. Buru-buru saya membetulkan posisi duduk saya.

Penasaran saya langsung langsung menunggu kata-kata yang meluncur berikutnya dari Anggota dewan yang terhormat itu. “Kan yang ngejalanin BPK itu ada anak buahnya. Terus selama ini kan pengusaha yang bekerja keras untuk mendatangkan investasi,” sambungnya.

Kacau!!! Mendengar komentar Andi yang terkesan asal bunyi atau asbun itu membuat saya tertawa. Kok bisa yah seorang anggota DPRD yang katanya dipilih oleh rakyat bikin statement asbun gitu.

Untuk diketahui, tugas seorang ketua BPK adalah melaksanakan pengelolaan , pengembangan dan pembangunan kawasan perdagangan bebas dan pelabuhan bebas sesuai dengan fungsi kawasan perdagangan bebas tersebut.

Selain itu seorang ketua BPK HARUS membuat peraturan-peraturan sepanjang tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Seorang ketua BPK juga dapat mengadakan peraturan dibidang tata tertib pelayaran dan penerbangan. Juga bertanggungjawab di bidang lalulintas barang di pelabuhan dan lain sebagainya. Dengan kata lain, sang ketua juga bisa menetapkan tariff untuk segala macam jasa sesuai dengan peraturan yang ada

Yang lebih ngejelimetnya, orang nomor satu di BPK itu nantinya harus mampu membuat anggaran pendapatan dan belanja yang disahkan lewat undang-undang. Tentunya keuangan itu harus dikelola juga di sepanjang garis undang-undang.

Dan yang paling penting serta membutuhkan banyak pemikiran, seorang ketua juga harus mampu memproses dan mengurusi perijinan usaha.

Nah loh…. Kalau tugasnya seabrek-abrek gitu, kok bisa-bisanya pak Anhar ngomong gituan.

Nah,, kalau kita balikin seperti ini, seorang anggota DPRD yang terhormat itu tidak harus pintar gimana yah??.. Wah, bisa-bisa saya disomasi 5789 anggota DPR, dan DPRD seluruh Indonesia.

Satu hal lagi nih, menurut saya sudah tidak jamannya lagi masih memperdebatkan layak tidaknya seorang Ketua BPK. Mestinya semua pihak saat sudah bahu membahu memasukkan investasi. Bukannya malah bergelut di retorika cocok atau tidak cocok. Nah, gimana komentar yang lain yah?

Bangsa Yang Melupakan Pejuangnya

Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai para pejuangnya.

Ungkapan ini sudah berulangkali diucapkan. Namun, benarkah para pejuang yang tersisa bisa mengecap manisnya kemerdekaan yang mereka perjuangkan dengan bertaruh nyawa itu?
Tengoklah Bawaihi Saleh (89), seorang veteran perang yang masih tersisa di Bumi Segantang Lada ini. Di usianya yang senja, Bawaihi hanya bisa terbaring lemah di dalam kamar ukuran 2x3 meter di rumah anaknya Taman Harapan Indah Blok C1/11, Batu 8 Tanjungpinang.

Namun, pejuang kelahiran 26 Maret 1919 ini tetaplah pejuang. Darah pejuang mengalir deras di nadinya dan akan terus berkobar hingga ajal menjemputnya. Selemah apapun kondisinya, jika seorang memberi hormat padanya, sekuat tenaga ia akan mengangkat tangannya untuk membalas hormat kepadanya.

“Yang tersisa dari ayah saya hanyalah semangat. Sejak dua tahun ini kondisi ayah saya mulai menurun,” kata anak perempuannya, Chairunnibah Bawaihi (61). Semasa mudanya, kata Chairunnibah, ayahnya aktif memperjuangkan kemerdekaan. Memang, dirinya berjuang melawan penjajah di beberapa daerah di Kalimantan, Sumatera dan Jawa. Tapi bukankah tanpa tetesan keringat bahkan darahnya, kemerdekaan itu tidak dirasakan oleh kita masyarakat Kepri ini.

Semangat membebaskan diri dari penindaasn itu, membawa dirinya meraih berbagai penghargaan dan gelar tanda jasa dari pemerintah. Pada masa Presiden Soekarno, dirinya pernah meraih penghargaan atas jasa-jasanya melawan penjajah.
Chairunnibah menceritakan bahwa pada awalnya ayahnya adalah seorang guru. Akan tetapi kecintaannya kepada tanah air mendorong ia ikut berjuang mengangkat senjata. Resikonya, ia dikejar-kejar oleh penjajah dan terpaksa harus bersembunyi di hutan-hutan Kalimantan.

Keluarga yang dicintainya pun harus dikorbankannya demi mencapai tujuan seluruh bangsa Indonesia, Merdeka“Ketika saya dilahirkan, beliau tidak ada karena harus bersembunyi di hutan,” kenang Chairunnibah lagi. Akhirnya, perjuangan Bawaihi tidak sia-sia. Tanggal 17 Agustus 1945 kemerdekaan yang di cita-citakannya akhirnya terwujud juga.
Atas jasa-jasanya pemerintah menganugerahi pangkat terakhir sebagai Letnan Satu (Lettu). Selain itu, pemerintah juga telah menjanjikan untuk memberikan tempat peristrahatan terakhir di taman makam pahlawan.

Pejuang juga manusia. Naluri kemanusiaannya sebagai seorang ayah tentu berusaha untuk selalu memberikan yang terbaik untuk buah hatinya. Ditengah himpitan ekonomi yang melanda Indonesia, Ia rela mengorbankan saksophone kesayangannya untuk Chairunnibah.“Sekitar tahun 1966 ayah saya datang ke Pontianak menjenguk saya. Ia memberikan saksophone kesayangannya kepada saya. Dia meminta saya menjual saxophone ini jika saya membutuhkan biaya untuk hidup saya,” cerita Chairunnibah.

Saat ini, bentuk perhatian pemerintah pusat diwujudkan dengan memberikan tunjangan veteran setiap bulannya. Uang tersebut digunakan pihak keluarganya untuk membeli beberapa kebutuhan nya seperti popok untuk dirinya. Maklum saja, sejak kondisinya menurun, praktis Bawaihi tidak bisa beranjak dari tempat tidurnya.

Kondisi Bawaihi yang juga gemar bermain bola pada masa mudanya ini sangat membutuhkan perhatian pemerintah. Perhatian itu tidak hanya diwujudkan dalam bentuk materi. Tapi juga bisa diwujudkan dengan memberi perhatian dan rasa hormat kepada mereka. Sikap itu akan menempatkan Bawaihi dan pejuang-pejuang lainnya di posisi selayaknya.

“Bapak berpesan kepada kami untuk tidak mementingkan materi. Akan tetapi kebanggaan dan kehormatan sebagai anak dan cucu pejuang,” kata Chairunnibah.Maka dari itu, Ia berharap pemerintah Provinsi Kepri dapat lebih memerhatikan keberadaan Bawaihi.
Harus disadari, masyarakat Kepri mampu melepaskan diri dari penjajahan, kebodohan, dan kemiskinan tidak terlepas dari peran para veteran perang dan veteren-veteran lain. Maka dari itu, masih adakah penghargaan dari kita yang katanya bangsa yang besar?